Dasar-dasar Ilmu Sharf dalam Bahasa Arab

sekolah makarims

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

PENDAHULUAN

A. Ilmu Sharf

Ilmu sharf adalah cabang ilmu tata bahasa Arab yang mempelajari cara membuat kata-kata turunan dari kata-kata  dasar.

Perlu diketahui bahwa mayoritas kata-kata berbahasa Arab memiliki bentuk pola yang sangat teratur. Perhatikan contoh kata berikut ini!

bhs arab

Pada kelompok pertama, huruf-huruf kesatu, ketiga, dan keempat berbeda-beda pada setiap katanya. Sedangkan huruf kedua, yakni huruf alif selalu ada di setiap katanya.

Pada kelompok kedua, huruf-huruf kedua, ketiga, dan kelima berbeda-beda pada setiap katanya. Sedangkan huruf pertama yakni huruf mim dan huruf keempat, yakni huruf wawu selalu ada di setiap katanya.

Ketahuilah, bahwa huruf-huruf yang berganti pada setiap kata sepola adalah huruf-huruf pokok penyusun sebuah kata, sedangkan huruf yang selalu ada dalam setiap kata sepola adalah huruf tambahan (zãidah).

Selanjutnya, untuk memudahkan dalam menghapal bentuk perubahan kata-kata berpola para ulama sharaf merumuskan:

  • setiap huruf pokok pertama diganti dengan variabel fa (ف),
  • setiap huruf pokok kedua diganti dengan variabel ‘ain (ع),
  • setiap huruf pokok ketiga diganti dengan variabel lam (ل), dan
  • Adapun huruf-huruf zãidah (huruf-huruf yang selalu ada pada setiap kata sepola) tidak diganti.

Dengan demikian maka kata-kata pada contoh kelompok pertama adalah berpola فَاعِلٌ dan semuanya bermakna kata benda pelaku. Sedangkan kata-kata pada contoh kelompok kedua adalah berpola مَفْعُوْلٌ dan semuanya bermakna kata benda sasaran perbuatan. Dengan begitu mudah bagi kita membaca dan menerjemahkan kata-kata berpola sama dengan kata-kata tersebut walaupun tidak ber-harakat seperti berikut ini:

جاعل جالس حاضر ظالـم
صالـح صابر طالب قارء
مظلوم مطلوب محمود مكتوب
مرزوق مرحوم مغضوب مفتوح
Penting!

Kata-kata sepola, huruf-hurufnya memiliki harakat yang sama.

 B. Mengenal Istilah dalam Ilmu Sharaf

1. Wazn

Wazn artinya pola kata. Umumnya dengan menggunakan variabel huruf-huruf fa (ف), ‘ain (ع), dan lam (ل) untuk pola akar kata dasar. Sedangkan pada pola-pola kata turunan ditambah dengan beberapa huruf imbuhan tertentu (huruf zã-idah).

Contoh:

  • Wazn dari kata عَلِمَ adalah  فَعِلَ
  • Wazn dari kata عَالِمٌ adalah  فَاعِلٌ
  • Wazn dari kata اِسْتَبْدَلَ adalah  اِسْتَفْعَلَ

2. Mawzûn

Mawzûn artinya kata berpola. Seperti kata بَدَلَ adalah kata berpola فَعَلَ , kata عَالِمٌ adalah kata berpola فَاعِلٌ, kata مُسْلِمٌ adalah kata berpola مُفْعِلٌ, dan sebagainya.

3. Fa Fi’il, ‘Ain Fi’il, dan Lam Fi’il

Yang dimaksud fa fi’il adalah huruf pokok pertama, ‘ain fi’il adalah huruf pokok kedua, dan lam fi’il adalah huruf pokok ketiga dari sebuah kata berpola. Contoh pada kata كَتَبَ; huruf ك disebut fa fi’il, huruf ت disebut ‘ain fi’il, dan huruf بdisebut lam fi’il. Meskipun kata tersebut sudah berubah bentuknya tetap saja huruf pokok pertamanya disebut fa fi’il, dan seterusnya. Contoh pada kata مَكْتُوْب; fa fi’il-nya adalah ك, ‘ain fi’il-nya adalah ت, dan lam fi’il-nya adalah ب. Huruf selebihnya adalah zã-idah atau tambahan.

4. Shîghat

Shîghat artinya format/bentuk kata yang didasarkan pada maknanya. Contoh, semua kata yang bermakna kata kerja bentuk lampau itu dikatakan ber-shîghat fi’il mâdhi, semua kata benda turunan yang bermakna kata benda pelaku dikatakan ber-shîghat isim fâ’il, dan sebagainya.

 

C. Kata Dasar

Ketahuilah, bahwa dalam ilmu tata bahasa Arab, yang dikategorikan sebagai kata dasar adalah fi’il mâdhi ( kata kerja bentuk lampau) seperti:

  • عَلِمَ (-sudah-mengetahui)
  • قَرُبَ (-sudah-dekat)

Fi’il mâdhi itu dapat diketahui melalui bentuk polanya, yaitu:

  • فَعِلَ seperti pada kata عَلِمَ (mengetahui)
  • فَعَلَ seperti pada kata كَتَبَ (menulis)
  • فَعُلَ seperti pada kata حَسُنَ (baik)

___________________________ karena kata-kata dasar seperti di atas hanya tersusun dari 3 huruf saja maka dia disebut fi’il tsulâtsi mujarrad.

  • فَعَّلَ seperti kata عَلَّمَ (mengajarkan); dari akar kata علم
  • أَفْعَلَ seperti kata أَعْلَمَ (memberitahu); dari akar kata علم
  • فَاعَلَ seperti kata قَارَبَ (saling mendekat); dari akar قرب
  • تَفَعَّلَ seperti kata تَعَلَّمَ (belajar); dari akar kata علم
  • تَفَاعَلَ seperti kata تَقَارَبَ (saling berdekatan); dari قرب
  • اِفْعَلَّseperti pada kata اِسْوَدَّ (menghitam)
  • اِفْتَعَلَ seperti kata اِقْتَرَبَ (menjadi dekat) ; dari akar قرب
  • اِسْتَفْعَلَ seperti kata اِسْتَعْلَمَ (mencari tahu); dari علم

_____________________________ karena kata-kata dasar tersebut merupakan kata dasar turunan dari suatu akar kata maka selanjutnya dia disebut fi’il tsulâtsi mazîd.

 

D. Bangunan Kata

Agar mudah memahami pelajaran ini, ketahuilah bahwa setiap kata terbangun dari beberapa huruf ejaan (huruf hijã-iyyah). Dalam ilmu sharaf, huruf-huruf hijã-iyyah ini dibagi ke dalam 2 kelompok, yaitu:

  1. Huruf ‘Illat (huruf penyakit), yaitu ا, و, dan ي.
  2. Huruf Shahîh (huruf sehat), yakni selain ketiga huruf ‘illat

Yang dimaksud dengan bangunan kata atau binãul-kalimah adalah pengelompokan kata dasar (fi’il madhi) berdasarkan jenis huruf-huruf pokok pembentuknya, yaitu:

  • Fi’il Bina Sâlim, jika semua huruf pokoknya bebas huruf ‘illat, hamzah, dan pendobelan seperti kata كَتَبَ (menulis).
  • Fi’il Bina Mahmûz, jika salah satu huruf pokoknya berupa huruf hamzah seperti أَكَلَ (makan) dan سَأَلَ (meminta).
  • Fi’il Bina Mudhâ’af, jika huruf pokok kedua dan ketiganya sama seperti kata رَدَّ (mengembalikan); aslinya رَدَدَ.
  • Fi’il Bina Mitsâl, jika huruf pokok pertamanya berupa huruf ‘illat seperti وَجَبَ (wajib) dan يَسَرَ (mudah).
  • Fi’il Bina Ajwaf, jika huruf pokok keduanya berupa huruf ‘illat seperti قَالَ (mengatakan).
  • Fi’il Bina Nâqish, jika huruf pokok ketiganya berupa huruf ‘illat seperti دَعَا (mengajak) dan نَهَى (melarang).
  • Fi’il Bina Lafîf, jika huruf pokok kedua dan ketiganya berupa huruf ‘illat seperti نَوَى (meniatkan).
  • Fi’il Bina Multawi, jika huruf pokok pertama dan ketiganya berupa huruf ‘illat seperti وَقَـى (melindungi).

Perlu diketahui, bahwa perbedaan jenis huruf penyusun sebuah kata akan menyebabkan adanya sedikit perbedaan perubahan tashrifnya dengan kata-kata lain meskipun berpola sama. Contoh kata وَجَدَ (mendapati) dan kata جَلَسَ (duduk) berdasarkan ketentuan ilmu sharaf adalah sepola. Tetapi huruf pertama pada kata وَجَدَ berupa huruf ‘illat sehingga kedua kata tersebut sedikit berbeda pada bentuk perubahan fi’il mudhari’nya (kata kerja bentuk sedang/akan, present tense).

Berdasarkan aturannya, perubahan kedua kata tersebut dari bentuk madhi ke bentuk mudhari’nya adalah mengikuti pola perubahan فَـعَـلَ – يَـفْـعِـلُ seperti جَلَسَ – يَجْلِسُ. Akan tetapi untuk kata وَجَدَ ternyata di kamus perubahannya menjadi يَجِدُ. Seharusnya jika mengikuti pola adalah يَوْجِدُ. Inilah contoh pengaruh dari perbedaan jenis huruf penyusun pada sebuah kata berpola.

 

E. Dua Jenis Tashrif

Sudah dijelaskan di muka bahwa tashrif artinya mengubah bentuk suatu kata dari bentuk dasar ke dalam bentuk-bentuk lainnya. Tashrif ada 2 jenis, yaitu:

  1. Tashrif Istilahi atau disebut juga Tashrif Ushul, yaitu mengubah kata dasar (jenis kata kerja bentuk lampau, fi’il madhi) menjadi jenis-jenis kata lainnya, seperti menjadi jenis kata kerja bentuk sedang, bentuk perintah, menjadi kata benda pelaku, dan sebagainya. Contoh tashrif kata كَتَبَ berikut ini:
  • كَتَبَ (-sudah- menulis); kata kerja bentuk lampau
  • يَكْتُبُ (-sedang/akan- menulis); kata kerja bentuk sedang/akan
  • اُكْتُبْ (tulislah!); kata kerja bentuk perintah
  • كَاتَبٌ (yang menulis); kata benda pelaku
  1. Tashrif Lughawi, yaitu perubahan kata karena idhafah (disandarkan) kepada kata lainnya, tidak menimbulkan perubahan jenis kata, seperti perubahan kata kerja yang didasarkan pada subjeknya dan sebagainya. Contoh:

a. Perubahan kata كَتَبَ (sudah menulis) berdasarkan subjeknya:

  • كَتَبْــــــتُ (aku -sudah- menulis)
  • كَتَبْـــــــتَ (kamu lk. -sudah- menulis)
  • كَتَبْـــــــتِ (kamu pr. -sudah- menulis)
  • كَتَبْـــــــــنَا (kami –sudah- menulis)

b. Perubahan kata يَكْتُبُ (sedang menulis) berdasarkan subjeknya:

  • يَــــــكْتُبُ (dia –sedang- menulis)
  • تَــــــكْتُبُ (kamu lk. -sedang- menulis)
  • نَــــــكْتُبُ (kami –sedang- menulis)
  • أَكْتُبُ (aku -sedang- menulis)

c. Perubahan kata كَاتِبٌ berdasarkan jenis kelamin dan jumlahnya:

  • كَاتِبٌ / كَاتِبَةٌ (seorang penulis lk./pr.)
  • كَاتِبَاْنِ / كَاتِبَتَاْنِ (dua orang penulis lk. / pr.)
  • كَاتِبُوْنَ / كَاتِبَاتٌ (beberapa orang penulis lk. / pr.)

Save